Produktivitas dan Keberkahan hidup Imam An-Nawawi

Produktivitas dan Keberkahan hidup
Imam An-Nawawi
Oleh: Darwin (Mahasiswa KPI)

Mendengar nama Imam An-Nawawi penulis langsung teringat dengan kitab Arbain An-Nawawiyah. Ya, kitab yang berisi kumpulan hadits pilihan ini merupakan salah satu karangan beliau yang masyhur di kalangan muslimin. Di bagian pertama ini mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan Iman an-Nawawi, ulama tersohor asal Suriah yang dikenal karena karya-karya ilmiahnya yang sungguh luar biasa.

Nama lengkap beliau adalah Yahya bin Syarafuddin Muri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam al-Hizami an-Nawawi. Beliau lahir pada bulan Muharram tahun 631 H (1233 M) di sebuah desa kecil bernama Nawa, yang terletak di wilayah Hauran, Suriah. Imam Nawawi wafat pada 24 Rajab Tahun 676 H di desa kelahirannya yaitu Nawa. Beliau dikebumikan di desa tersebut, disebabkan penyakit yang dideritanya. Imam an-Nawawi dijuluki Muhyiddin (Penghidup Agama), namun beliau membenci julukan atau gelar ini karena tawadhu’ beliau. Di samping itu, agama Islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang untuk menghidupkannya sehingga bisa menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkan atau meninggalkannya.

Bahkan beliau sendiri bilang tidak akan memaafkan orang-orang yang menjulukinya Muhyiddin. Kendati secara kualifikasi sangat layak menyandang julukan tersebut. Kehidupan remaja beliau dihabiskan untuk membantu orang tuanya menjaga toko ayahnya di Nawa. Namun beliau tidak pernah meninggalkan membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Dikisahkan saat baru berusia 10 tahun ketika itu Imam an-Nawawi dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun beliau menolak hingga ia berlari dan menangis. Beliau lebih memilih membaca Al-Qur’an. Syekh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi (seorang waliyullah) yang menyaksikan peristiwa itu merasa iba dan berkata kepada an-Nawai, “Kelak, anak kecil ini akan menjadi orang yang paling ‘alim dan zuhud di zamannya. Banyak manusia mendapatkan manfaat dari ilmunya. Kemudian Syekh Yasin menemui guru Imam an-Nawawi dan berwasiat kepadanya agar menjaga dan mendidik Imam an-Nawawi.

Setelah itu, gurunya kemudian menceritakan kejadian tersebut kepada orang tua Imam an-Nawawi yang membuat mereka bersemangat untuk mendorong Imam an-Nawawi dalam menghafal Al-Qur’an dan memperlakukan beliau dengan kasih sayang. Alhasil Imam an-Nawawi telah hafal Al-Qur’an sebelum mencapai usia baligh.Pada tahun 649 H memasuki usia 19 tahun beliau merantau ke Damaskus dan masuk pesantren di Madrasah Darul Hadits dan menetap di pondok al-Rawahiyah yang berdekatan dengan masjid al-Umawi Damaskus. Masuk sekolah di usia 19 tahun bisa dibilang terlambat ketika kebanyakan anak-anak masuk sekolah sebelum usia baligh. Namun ketekunan dan kedisiplinan beliau dalam belajar tak perlu dipertanyakan lagi.

Imam Nawawi dikenal sebagai sosok yang sangat tekun dalam pembelajaran dan menghafalkan banyak kitab serta memperdalam pemahaman keislamanannya. Menurut salah satu muridnya, dalam satu hari ia belajar dua belas mata pelajaran kepada beberapa guru berbeda. Diantara guru-guru beliau adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Muradi, Abu Al Baqa’ Khalid bin Yusuf An-Nabilisi, Adh Dhiya’ bin Tamim Al-Hanafi dan masih banyak lagi guru-guru yang didatangi oleh Imam an-Nawawi. Selama di pondok beliau belajar berbagai macam kitab dalam bidang fiqih, hadits, nahwu, tashrif, matnul lughoh, ushul fiqh, sejarah, dan ushuluddin.

Di pondok ini juga beliau menghafal kitab At-Tanbih, salah satu kitab rujukan fiqih mazhab Syafi’i hanya dalam waktu empat setengah bulan, bahkan di tahun yang sama Imam an-Nawawi juga menghafal kitab Al-Muhadzdzab karya Imam Abu Ishaq Al-Syirazi. Setelah 6 tahun belajar di usia yang ke-25 tahun beliau mulai aktif menulis dan mengajar. Namun sebagian ulama mengatakan Iman an-Nawawi mulai menulis di usia 30 tahun.

Jika dikalkulasikan dengan umur beliau yang relatif muda yaitu 45 tahun, aktivitas menulisnya hanya berkisar 15 tahun. Namun dengan waktu singkat tersebut, Imam an-Nawawi mampu menulis buku lebih dari 60 karya dengan kualitas standar Internasional. Berdasarkan perhitungan masa menulisnya yang berkisar 15-20 tahun diperkirakan Imam an-Nawawi mampu menulis sebanyak 2 kurrosah. Definisi kurrosah menurut Al-Mu’jam Al-Wasith adalah semacam buku kecil (booklet) yang terdiri dari 10 waraqah. Menurut Mu’jam ar-Ra’id 10 waraqah sama dengan 8 sampai 16 halaman. Bahkan dalam kalkulasi Syekh Abdul Ghani, rata-rata Imam an-Nawawi menulis dua buku setiap harinya di sepanjang hidup beliau.

Jika memakai standar dunia kampus, Imam an-Nawawi mampu menulis 2 artikel dalam jurnal kualitas internasional. Di kampus sendiri ketika menerbitkan satu artikel dalam jurnal internasional setiap semester saja sudah menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa. Bayangkan Imam an-Nawawi bisa menulis 2 artikel setiap hari bukan lagi setiap semester.

Dari sini, kita bisa melihat bagaimana keberkahan dan manajemen waktu yang luar biasa dari Imam an-Nawawi. Tentu ini tidak lepas dari campur tangan Allah. Imam an-Nawawi sendiri bilang dalam kitabnya Tuhfatu ath-Thalibin, “Allah memberkahi waktu dan kesibukan saya. Dia juga membantu aktivitas saya…”. Tidak ada waktu yang terlewatkan oleh Imam an-Nawawi melainkan diisi dengan ketaatan kepada Allah, menuntut ilmu, dan melakukan aktivitas ilmiahnya yaitu menulis.
Bahkan ketika perjalanan ke pondoknya beliau tidak hanya sekedar berjalan, namun diisi dengan berbagai aktivitas, entah itu membaca Al-Quran, muraja’ah materi pelajaran, atau menyunting naskah tulisan yang sudah dibuat sebelumnya. Sepanjang hidupnya, tidak semua naskah tulisannya dijilid atau dibukukan olehnya.

Ada beberapa alasan diantaranya pertama, tidak sempat menyelesaikan naskahnya dikarenakan beliau wafat, namun dilanjutkan penulisan kitabnya oleh murid beliau sendiri. Kedua, saat penulisan Imam an-Nawawi merasa ada motivasi lain yang bisa mengurangi keikhlasannya. Terakhir, tidak ada waktu untuk pengecekan ulang atau penyuntingan naskah yang sudah dibuat. Pengabdian dan kecintaan terhadap ilmu membuat Imam an-Nawawi tak sempat memikirkan untuk menikah. Hidup beliau dihabiskan untuk menuntut ilmu, menulis, dan beribadah kepada Allah. Dari perkenalan singkat kita dengan Imam an-Nawawi bisa kita ambil pelajaran dan hikmah dari diri Imam an-Nawawi yaitu ketekunan dan menjaga niat. Diceritakan bahwa Imam an-Nawawi tidak pernah tidur malam kecuali hanya sejenak dan bersandarkan pada buku-buku.

Ketika Imam an-Nawawi menulis kemudian merasa tidak ikhlas, beliau rela menghapus semua tulisannya kemudian menulis ulang sembari memperbaharui niatnya. Sungguh beliau selalu berusaha untuk menjaga niatnya. Sebagai anak muda kita perlu mencontoh ketekunan, produktivitas, dan manajemen waktu dari Imam an-Nawawi. Jika menyamai Imam an-Nawawi dinilai terlalu ambisius, maka cukup mencapai sepersepuluh dari beliau saja dan itu pun sudah luar biasa di zaman sekarang. Menjaga konsistensi dan kedisiplinan tentu sangat sulit di zaman yang gampang distraksi dan serba instan.
Memanfaatkan waktu dan masa muda dengan aktivitas yang produktif serta selalu menjaga diri dari aktivitas dan lingkungan yang bisa melalaikan kita dari beribadah kepada Allah. Dan yang terpenting adalah berusaha untuk selalu menjaga dan memperbaharui niat. Tidak boleh dinodai oleh motif dan keinginan duniawi. Tekun, disiplin serta menjaga niat adalah kunci sukses dalam menuntut ilmu. Dua hal tersebut menjadi wasilah dimana Allah menunjukkan jalan-jalan-Nya sehingga kita bisa mencapai keberkahan dan kenikmatan dalam menuntut ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *